
Pertanian Industrial, Strategi Modern Menuju Swasembada Pangan Berkelanjutan di Banyumas
Pertanian Industrial, Strategi Modern Menuju Swasembada Pangan Berkelanjutan di Banyumas
Tantangan swasembada pangan di era perubahan iklim dan keterbatasan sumber daya menuntut adanya transformasi besar dalam sistem pertanian. Metode konvensional yang selama ini dijalankan dinilai belum cukup untuk menjawab kebutuhan pangan jangka panjang. Karena itu, pendekatan pertanian industrial berbasis manajemen modern dan teknologi menjadi solusi strategis menuju swasembada pangan berkelanjutan.
Hal tersebut disampaikan Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Banyumas, Arif Sukmo Bowono ST. MM, saat menerima bantuan alat dan mesin pertanian (alsintan) dari anggota DPR RI, Adisatria Suryo Sulisto, di kantor Dinpertan Banyumas, Kamis (5/3/2026).
Menurut Arif, pertanian masa depan membutuhkan generasi baru petani yang tidak hanya piawai di lahan, tetapi juga memiliki kemampuan manajerial.
“Kita butuh petani muda yang mempunyai kemampuan manajerial pertanian, yang mampu melihat pertanian sebagai lahan industri. Masa tanam harus bisa dijadwalkan bersamaan dan ditata layaknya sistem industri,” jelasnya.
Dalam konsep pertanian industrial, lahan dikelola secara terstruktur dan terencana. Penjadwalan tanam dilakukan serempak untuk meningkatkan efisiensi distribusi air, pupuk, dan pengendalian hama. Selama ini, jadwal tanam masih ditentukan masing-masing petani sehingga pengelolaan air kerap menjadi persoalan.
Dengan sistem yang terintegrasi, kebutuhan air dapat diatur secara proporsional. Untuk wilayah dengan keterbatasan air, misalnya, petani dapat memanfaatkan varietas padi hemat air seperti Padi Inpago hasil budidaya dari Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed). Varietas ini dirancang untuk lahan kering dengan kebutuhan air yang lebih efisien tanpa mengurangi potensi hasil panen.
“Kebutuhan air untuk tanaman padi tidak perlu terlalu banyak, hanya cukup sesuai kebutuhan. Jika dikelola seperti industri, maka masa tanam bisa serempak dan kebutuhan air tercukupi secara optimal,” ungkap Arif.
Pendekatan ini sekaligus menjadi edukasi bagi petani bahwa produktivitas tidak hanya bergantung pada luas lahan, tetapi juga pada manajemen dan inovasi teknologi
Penguatan SDM dan Teknologi
Transformasi pertanian tidak cukup hanya dengan alat modern. Sumber daya manusia (SDM) menjadi fondasi utama. Berbagai bantuan alsintan dari Kementerian Pertanian Republik Indonesia serta dukungan legislatif diharapkan mampu mempercepat adaptasi teknologi di lapangan.
Arif menegaskan, penguatan SDM selaras dengan program pembangunan daerah, khususnya penciptaan petani muda dan pengusaha muda di setiap wilayah, serta target swasembada pangan. Pendidikan, pelatihan, hingga pendampingan menjadi langkah penting untuk membangun ekosistem pertanian modern.
Sementara itu, anggota DPR RI Adisatria Suryo Sulisto menyoroti menurunnya minat generasi muda terhadap sektor pertanian. Menurutnya, pertanian harus tampil sebagai sektor yang menjanjikan, modern, dan berbasis teknologi.
“Pertanian harus dibuat menarik dengan teknologi yang mempermudah kerja dan meningkatkan hasil panen. Di Komisi VI, banyak program CSR yang bisa diarahkan untuk sarana dan prasarana pertanian. Saya berkomitmen membantu pertanian Banyumas,” ujarnya.
Pertanian industrial bukan sekadar modernisasi alat, tetapi perubahan paradigma. Dari sistem tradisional menuju sistem berbasis data, manajemen, dan kolaborasi. Dengan dukungan teknologi, inovasi varietas unggul, serta regenerasi petani muda, Banyumas berpeluang menjadi model pertanian berkelanjutan di tingkat regional.
Upaya ini sekaligus menjadi investasi jangka panjang untuk menjaga ketahanan dan kedaulatan pangan, memastikan ketersediaan bahan pangan yang cukup, berkualitas, dan berkelanjutan bagi masyarakat.


